Kota Kupang, pena-nusantara.com – Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 5 Kota Kupang yang terletak di Jalan Frans Seda, penerapan Kurikulum merdeka belajar belum seratus persen namun masih dalam tahap uji coba.
Kurikulum Merdeka Belajar Merupakan salah satu Kurikulum baru yang dikeluarkan Menteri Pendidikan pada waktu lalu. Tahap uji coba kurikulum merdeka belajar telah mulai diterapkan di Sekolah-Sekolah di seluruh Indonesia sejak awal semester Ganjil 2021/2022 ini.
Menurut kepala Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 5 Kota Kupang Ferderik Mira Tade, S.Pd, penerapan Kurikulum merdeka belajar di SMPN 5 Kota Kupang belum bisa diterapkan seratus persen (100%) karena masih tahap uji coba pada kelas tuju.
“Kita kan masih taraf belajar kurikulum baru ini,” Kata Ferderik, Selasa (01/11/2022).
Ia juga menjelaskan, pemberlakuan Kurikulum Merdeka Belajar nanti tahun 2024. Sehingga saat ini tahap uji coba Sekolah masih proses belajar.
“Pemberlakuan pelaksanaannya nanti 2024 jadi sekarang masih taraf uji coba. Kami di lapangan belum seratus persen melakukan itu, kami masih belajar,” jelasnya.
SMPN 5 Kota Kupang juga berniat menerapkan seratus persen kurikulum Merdeka Belajar tersebut.
Ferderik juga mengungkapkan, terdapat kendala yang mereka hadapi dalam penerapan Kurikulum Merdeka Belajar yang suda berjalan hampir satu semester ini. Kendala yang dihadapi SMPN 5 Kota Kupang ini yakni ketersediaan Sumber Belajar sebagai pegangan guru maupun pegangan siswa.
“Kendala kami adalah sumber belajar. Sebenarnya itu sudah ada sebagai pegangan guru maupun pegangan siswa tapi sampai saat ini kita belum punya.
Untuk tahun ini kami sudah programkan beli buku yang K13, belum kita programkan yang Kurikulum Merdeka ini,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan, dana pengadaan buku Kurikulum Merdeka Belajar tidak ada karena dana yang tersedia sudah digunakan untuk pengadaan buku K13, walaupun sudah perubahan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah atau RKAS namun uang tersebut sudah terlanjur terpakai dalam membeli buku K13.
“Sehingga memang ada kesulitan kami di lapangan untuk pengadaan buku sekarang ini. Walaupun ada perubahan RKAS dan itu sudah tidak memungkinkan karena dana kita sudah terlanjur terpakai untuk belanja buku K13,” tambahnya.
Selain itu, SMPN 5 Kota Kupang juga berusaha membuat siswanya mudah menyerap dan mempertajam pemahamannya dalam kegiatan belajar mengajar atau KBM, Guru selalu memberikan tugas rumah (PR) kepada siswanya. Selain tugas rumah (PR) ada juga tugas berbasis Proyek yang biasa disebut P5 atau Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, guna menambah daya pikir dan kreativitas siswa.
“Mereka diberikan tugas untuk cari dan pelajari sehingga apa yang disampaikan guru di sekolah itu kan bisa terserap oleh mereka ketika mereka sudah ada di rumah dan mengerjakan tugas,” ujarnya.
Ferderik mengatakan, Pembelajaran P5 atau Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila, baru diterapkan di kelas VII karena kelas tersebut yang menjalankan Kurikulum Merdeka Belajar sedangkan kelas VIII dan IX masih menggunakan kurikulum lama.
“Untuk sementara yang bisa kami lakukan mengenai Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di kelas tuju, karena mereka yang menjalankan kurikulum merdeka, sedangkan kelas 8 dan 9 masih kurikulum lama,” pungkasnya.
SMPN 5 Kota Kupang belum bisa menjalankan kegiatan ekstrakurikuler seperti dulu. Namun, Sekolah tersebut selalu ikut aktif berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan lomba, seperti cerdas-cermat, paduan suara, lomba tarian.
“Untuk sementara kegiatan ekstrakurikuler masih terbatas seperti ini hanya kegiatan-kegiatan tertentu yang kita lakukan. Karena pertimbangannya masih masa Pandemi sehingga kita tidak terlalu bebas untuk melakukan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti dulu,” tutupnya
Laporan: Frengki Ladi


